WELCOME

🦲🦲🤩🦲🦲

STRANGERS

🦵🦵🤔🦵🦵

THERE'S

🦵🦵🤗🦵🦵

NOTHING

🦵🦵😥🦵🦵

HERE

But thanks to visit my site 😁

Jumat, 07 September 2018

Mengapa Saya Masuk Jurusan Akuntansi?



Halo semua!!
Almaas is here!!

          So, hari ini saya mau cerita-cerita tentang pengalaman pribadi. Sebenarnya sih ini untuk tugas kuliah tapi kalau kalian iseng baca aja, gak ada salahnya kan siapa tahu bisa membantu bagi kalian yang masih SMA dan masih bingung dan bimbang setelah lulus mau bagaimana. Oke, lets start it!!

           Kalau kalian lihat di Bio saya maka kalian tahu bahwa saya adalah mahasiswa Gunadarma jurusan Akuntansi. Padahal saya ini lulusan jurusan IPA sewaktu SMA, memang sih banyak juga lulusan IPA yang mengambil jurusan ini, karena jurusan Akuntansi terkenal dengan jurusan penghitung uang sehingga gak heran kalau banyak anak IPA jenius matematika memilih jurusan ini. Belum lagi jurusan Akuntansi memiliki prospek kerja yang luas. Tapi saya sama sekali bukan termasuk si jenius itu malahan,saya kurang menyukai matematika ataupun yang berhubungan dengan hitungan.
Kenapa saya memilih jurusan ini ya?

              Padahal sewaktu SMA saya sama sekali tidak kepikiran untuk mengambil jurusan yang berhubungan dengan ilmu ekonomi. Kebetulan juga saya merupakan lulusan tahun 2017, dimana anak IPA tidak lagi diperbolehkan untuk mengambil jurusan prodi IPS atau yang sering disebut lintas minat.  Jika memang ingin mengambilnya maka harus mengukuti ujian SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri) dengan mengambil ujian untuk pelajaran IPS atau campuran.

              Sekarang mari kita flashback ke masa- masa SMA khususnya awal kelas 12, dimana semua murid sedang pusing- pusingnya memilih jurusan untuk kuliah termasuk saya sendiri. Jujur saja walaupun kami sudah didesak oleh guru BK (Bimbingan Konseling) untuk memilih jurusan yang diminati sejak kelas 10, tetap saja sampai setelah UN masih banyak anak kelas 12 yang bimbang ingin kemana. Hal ini dikarenakan jarang sekali dari teman-teman saya yang mempunyai cita- cita menetap. Ada yang berganti cita- cita setiap tahun, ada yang sesuai dengan temannya, ada yang ganti sesuai dengan drama yang sedang ia tonton, bahkan yang ekstrim ada yang sama sekali belum pernah memikirkannya sehingga saat ditanya ia akan menjawabnya dengan asal.

               Sewaktu awal kelas 10 saya sangat menyukai dunia hukum, terlebih profesi pengacara. (saat itu saya belum tahu tentang larangan lintas minat)  Cita-cita saya ini tidak lepas dari pengaruh serial Tv yang saya sangat gemari, yaitu ‘Law and Order: SVU’. Saya sangat terpikat dengan karakter Alex yang diperankan oleh aktris Stephanie March. Stephanie dapat membawakan karakter pengacara wanita yang tegas dan berwibawa namun tetap tidak melupakan sisi kemanusiaan serta sangat menjunjung tinggi moral dan logika.

              Saya juga penggemar dari novel- novel bertema dunia hukum karangan John Grisham yang sering menuliskan kehidupan seorang pengacara. Saya pun berfikir bahwa menjadi pengacara sangatlah menantang dan mengasikkan  sehingga saya menetapkan pengacara sebagai cita-cita. Cita-cita ini bertahan sampai kelas 11 semester awal karena realita tidak seindah bayangan, dunia pengacara tidak semulus diatas karya seni. Menurut sepupu yang bergelut dibidang tersebut saya kurang cocok untuk mengambil profesi pengacara karena kepribadian saya yang agak pemalu dan ragu- ragu. Awalnya saya tetap ngotot ingin terjun ke dunia hukum namun saya mengurungkannya karena saya memikirkan bagaimana kedepannya. Hidup tidak boleh asal coba namun harus ada rencana!

             Setelah mengurungkan niat saya sama sekali tidak mempunyai cita-cita bahkan beberapa nilai saya sempat turun disemester 2, karena tidak memiliki motivasi yang jelas namun berkat dorongan dari teman-teman akhirnya saya perlahan- lahan bangkit dan mulai serius belajar lagi. Lalu diawal kelas 12 kami diberitahu kalau UN tidak lagi 6 mata pelajaran namun hanya 4 karena mapel IPA dipilih sesuai minat dan pilihan kita bergantung pada jurusan saat kuliah nanti, misalnya ingin masuk jurusan teknik maka harus mengambil fisika (entah isu itu benar atau tidak). Karena nilai biologi saya cukup tinggi maka saya ambil mapel itu sebagai pilihan dan setelah berkonsultasi dengan BK saya memantapkan hati untuk mengambil jurusan Ilmu Kelutan. Kebetulan saya orang Bangka Belitung dan saya sangat menyukai laut. Namun sekali lagi realita menghempaskan saya. Saya gagal masuk kelautan baik di SNMPTN maupun SBMPTN. Setelah itu saya mecoba untuk mengikuti ujian di STPB namun gagal juga.

             Setelah gagal beberapa kali saya pun mulai enggan untuk mencoba ujian mandiri perguruan negeri. Saya sempat berfikir untuk mengulang SBM tahun depan saja istilah kerennya jadi anak GAP year. Tapi tentu saja saya menolak untuk menjadi pengangguran seutuhnya. Saya berencana untuk mengikuti beberapa kursus, khususnya bahasa dan mulai mencari lowongan kerja magang. Saat sedang sibuk- sibuknya mencari tiba- tiba saya mendapat pesan dari kampus Gunadarma bahwa saya mendapat beasiswa untuk masuk tanpa harus ujian lagi. Awalnya saya sempat tidak percaya, memang saya sempat mengikuti tryout yang diselenggarakan pihak Gunadarma disekolah namun saya sama sekali tidak berfikir bahwa itu untuk seleksi beasiswa. Kebetulan Gunadarma cukup dekat dengan rumah sehingga saya tidak perlu keluar uang banyak untuk kos dan ongkos.

             Lalu kembali ke permasalahan awal mengapa saya memilih jurusan Akuntansi. Jawabannya adalah, setelah masa mencari- cari lowongan kerja saya melihat bahwa tawaran pekerjaan paling banyak adalah bidang Akuntansi bahkan banyak perusahaan dari luar negri yang ingin merekrut ahli akuntansi Indonesia. Bagaimanapun juga tujuan akhir dari kuliah adalah untuk terjun kedunia pekerjaan dan jurusan Akuntansi sangat lah menjamin sehingga saya tertarik untuk mempelajarinya. Mengenai saya yang berasal dari jurusan IPA sehingga tidak mengerti basicnya, saya sangat optimis kalau saya belajar dengan sungguh- sungguh maka saya pasti bisa menyamai atau bahkan menandingi lulusan IPS maupun SMK jurusan Akuntansi.

            Kira-kira seperti itulah alasan mengapa saya masuk kejurusan Akuntansi walaupun terdengar seperti pilihan akhir yang mau tidak mau tapi saya sama sekali tidak berpikir seperti itu, malahan sekarang saya sangat bersyukur karena mungkin inilah jalan terbaik yang sudah disiapkan oleh yang maha kuasa. Disetiap kejadian termasuk yang buruk pasti ada hikmah dibaliknya. Baik hikmah yang langsung terlihat maupun yang harus kita lihat dari sudut pandang berbeda. Kita tidak boleh berputus asa dan menyalahkan siapapun termasuk diri kita sendiri, harap diingat bahwa koreksi diri dan menyalahkan diri sendiri sangatlah berbeda.

Sekian dari saya, semoga pengalaman saya diatas bisa bermanfaat bagi para pembaca.